Banyak dari kita tau kalau Indonesia menjadi salah satu rumah bagi banyak spesies satwa liar. Ada sekitar 300.000 jenis dari total keseluruhannya, dan ribuan di antaranya merupakan satwa endemik. “Endemik” dalam dunia satwa adalah jenis hewan yang secara alami hanya ditemukan di wilayah geografis tertentu. Dalam artian, jika mereka punah di wilayah tersebut, maka punah juga secara global.
Menurut data 2025 International Union for Conservation of Nature (IUCN), Indonesia memiliki sekitar ±542 jenis burung endemik, ±259 jenis mamalia endemik, ±173 jenis amfibi endemik, dan ±328 jenis reptil endemik. Populasi dari masing-masing jenisnya gak banyak, dan sebagian besar berstatus terancam punah akibat deforestasi, dan pemburuan liar.
Satwa endemik punya peran penting dalam keseimbangan ekosistem lokal, juga memiliki keunikan hasil dari adaptasi habitat mereka. Berikut 10 satwa perwakilannya:
Komodo

Komodo (Varanus Komodoensis) merupakan reptil purba terbesar di dunia yang hanya ditemukan di Indonesia. Awal tahun 2025, perkiraan data keseluruhan populasinya ada di sekitar ±2.793 individu dengan habitat terpadat di Pulau Rinca ±1.336 individu, Pulau Komodo ± 1.288 individu, Gili Motang ±83 individu dan Nusa Kode ±86 individu.
Selain memiliki air liur yang beracun, Komodo juga punya sistem reproduksi partenogensis yang langka, yaitu betina bisa bertelur dan menetas tanpa kawin. Mereka berperan menjaga keseimbangan populasi mangsa, membersihkan bangkai hewan untuk mencegah penyebaran penyakit, dan ekowisata yang mendatangkan pendapatan bagi masyarakat lokal buat mendorong konservasi habitat mereka.
Tarsius Kerdil

Atau Pygmy Tarsier (Tarsius Pumilus) merupakan primata terkecil di dunia yang berada di Sulawesi. Pernah dianggap punah, namun ditemukan kembali tahun 2008. Yang luar biasa, ada 15 jenis Tarsius di dunia, dan 14 jenisnya ada di Indonesia. Tidak ada data pasti untuk jumlah populasi mereka, karena sulit ditemukan sehingga sulit juga buat dihitung. Yang pasti mereka termasuk spesies terancam punah.
Sering disebut “fosil hidup”, Tarsius merupakan hewan nokturnal yang hanya sebesar genggaman tangan. Mereka dapat memutar kepala 180 derajat, setia pada satu pasangan atau monogami, suka menempelkan diri di dahan pohon saat tidur bahkan saat melahirkan, dan hanya memejamkan sebelah mata. Mereka berperan sebagai pengendali hama serangga, juga membantu petani dengan mengurangi populasi hama tanaman.
Orangutan

Ada 3 jenis Orangutan di Indonesia. Orangutan Kalimantan Borneo (Pongo Pygmaeus) yang populasinya menurun 80% sejak 1973, menyisakan sekitar 57.350 individu. Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) ada sekitar 13.710 individu, dengan populasi terbesar berada di Bentang Alam Leuser (Leuser Barat 5.920 & Leuser Timur 780). Dan yang terakhir Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) yang tersisa kurang dari 800 individu, hanya tinggal di hutan Batang Toru, Sumatera.
Orangutan Tapanuli jenis yang baru diakui tahun 2017, dengan hasil DNA paling tua dibanding Orangutan Kalimantan dan Sumatera. Yang membedakan mereka dengan 2 jenis lainnya, memiliki bulu lebih tebal dan keriting, wajah lebih datar, dan bantalan pipi yang menonjol dengan rambut halus pirang (jantan dewasa berjenggot mencolok, serta punya panggilan jarak jauh yang unik).
Orangutan merupakan “petani” hutan. Sebagai pemakan beragam buah, mereka berperan sebagai penyebar benih utama, terutama biji besar yang tidak bisa disebar hewan lain. Sehingga menjaga regenerasi hutan tropis.
Harimau

Sebenarnya kita punya 3 jenis Harimau. Tapi sedihnya cuma tersisa Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) yang populasinya kritis di sekitar kurang dari 600 individu. Harimau Bali (Panthera Trigris Balica) punah sekitar tahun 1950-an, dan Harimau Jawa (Panthera Tigris Sondaica) terakhir terlihat di tahun 1976.
Harimau Sumatera memiliki loreng unik seperti sidik manusia (lebih banyak, tipis, rapat dan berwarna pekat), membuat setiap individunya tidak ada yang sama persis. Mampu berenang jarak jauh, dan suka berendam. Mereka berperan sebagai pengontrol populasi herbivora dan mencegah vegetasi hutan secara berlebihan. Dengan memangsa hewan yang lemah atau sakit, Harimau membantu mengurangi penyebaran penyakit di antara populasi mangsanya.
Badak

Status hewan purba ini sangat kritis dan hampir punah. Badak Jawa (Rhinozeros Sondaicus) hanya sekitar 87-100 individu, berada di Taman Nasional Ujung Kulon . Sementara Badak Sumatera (Dicerorhinus Sumatrensis) hanya tersisa sekitar 34-47 individu, tersebar di Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Way Kambas, serta populasi kecil yang terisolasi di Kalimantan (Kutai Barat).
Badak Jawa memiliki satu cula, kulitnya lebih halus dan berwarna abu-abu, ukuran tubuh sedikit lebih besar sekitar 4 meter . Sedangkan Badak Sumatera punya dua cula, tubuhnya coklat kemerahan, ditutupi bulu, dan merupakan badak terkecil di dunia.
Badak berperan sebagai penebar benih alami lewat kotoran untuk regenerasi hutan yang sekaligus memberikan nutrisi bagi serangga dan mikroorganisme, dan membuat kubangan yang bermafaat juga bagi spesies lain untuk minum atau mandi saat musim kemarau.
Jalak Bali

Populasi Jalak Bali (Leucopsar Rothschildi) di alam liar terus meningkat dari jumlah yang sangat kritis sebelumnya berkat upaya konservasi. Per tahun 2025, diperkirakan mencapai sekitar 600 individu di Taman Nasional Bali Barat dan sekitarnya. Upaya ini didorong melalui aturan adat (awig-awig) yang melarang perburuan dan penebangan, serta penanaman pohon. Penangkaran juga dilakukan, diikuti dengan pelepasliaran kembali ke alam.
Masuk ke dalam daftar satwa yang dilindungi ini memiliki ciri bulu putih bersih dengan ujung sayap dan individu berwarna hitam, kulit biru cerah di sekitar mata pipi dan kaki, jambul kecil di kepala, dan dikenal dengan suaranya yang merdu.
Cendrawasih

Dari 43 spesies Cendrawasih (Paradisaeidae) di dunia, 30 spesies ditemukan di Indonesia dengan 28 spesies di antaranya berasal dari Papua dan 2 spesies lainnya di Maluku dan Halmahera. Data populasinya sulit ditemukan karena minimnya penelitian, namun diperkirakan terus menurun akibat perburuan liar (laporan Kompas, Mei 2025) untuk diambil bulunya, walaupun termasuk satwa dilindungi.
Dijuluki “burung surga” karena memiliki bulu hias berwarna kuning, merah, biru, hijau, hitam metalik dan juntaian seperti pita untuk menarik betina. Para jantan juga punya tarian kawin eksotis dengan melakukan gerakan rumit sambil memamerkan fleksibilitas bulu dan tubuhnya.
Pesut Mahakam

Lumba-lumba air tawar yang hidup di sungai Mahakam, Kalimantan Timur termasuk hewan langka. Pesut Mahakam (Orcaella Brevirostris) ini hanya tersisa 62 individu. Habitat mereka semakin rusak akibat polusi (tambang & sawit), penurunan jumlah mangsa, dan bahaya dari lalu lintas kapal tongkang yang padat.
Mereka dikenal karena kepalanya yang bulat tanpa moncong panjang, berwarna abu-abu kebiruan, dan menjadi indikator kesehatan ekosistem sungai. Menggunakan frekuensi tinggi (ekolokasi) untuk navigasi berburu di air berlumpur dan suka membantu nelayan mengiring ikan. Mereka juga memiliki reproduksi yang lambat, di mana betina melahirkan setiap 3.5-4 tahun sekali.
Trenggiling Sunda

Trenggiling Sunda (Manis Javanica) ini ternyata manis namanya, tapi gak semanis nasibnya. Populasi tahun 2025 sangat sulit dipastikan karena hidup mereka terpencil di hutan tropis dan rawa gambut pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Perkiraan penurunan drastis hingga 80% antara 1998-2019, sekitar 10.000 individu per tahun, yang membuat statusnya kritis terancam punah oleh IUCN.
Ancaman utama mereka dari perburuan dan perdagangan ilegal ke pasar gelap global karena permintaan yang sangat tinggi. Dagingnya dikonsumsi sebagai hidangan mewah. Sisiknya selain dijadikan aksesoris, juga dipakai dalam penggunaan obat tradisional dan obat terlarang karena punya kandungan zat adiktif Tramadol HCI serta parkitel pengikat zat pada psikotropika jenis sabu.
Sebagai satwa penggali tanah untuk mencari semut atau serangga lainnya, Trenggiling punya peranan ekologis untuk menggemburkan hutan dan melancarkan siklus biogeokimia hutan.
Gajah

Yang terakhir, ada Gajah, satwa favorit gue. Indonesia punya 2 jenis Gajah. Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatrus) diperkirakan dengan rentang estimasi di 924-1.359 individu dan Gajah Kalimantan (Elephas Maximus Borneoensis) yang populasinya sangat kritis hanya di sekitar 30-80 individu.
Gajah Kalimantan merupakan Gajah terkecil di dunia, sering disebut Gajah “kedil”. Dengan tinggi sekitar 2.5 meter, memiliki warna tubuh lebih terang, gading yang lebih kecil, 4 kuku di kaki belakang, dan telinga yang berbentuk lebih bulat. Sedangkan Gajah Sumatera memiliki tubuh lebih besar di tinggi sekitar 3 meter, rambut-rambut kecil lebih banyak, gading yang lebih panjang melengkung ke bawah, terdapat bercak putih kemerahan, 5 kuku di kaki depan dan 4 kuku di kaki belakang, serta telinga yang berbentuk segitiga. Keduanya pun memiliki dua tonjolan pada dahi mereka.
“Insinyur” hutan ini menjaga keseimbangan ekosistem dengan menyebarkan biji tumbuhan baru, membuka kanopi hutan agar tanaman lain tumbuh, menciptakan jalur bagi hewan lain, dan membentuk mikrohabitat. Peran Gajah sebagai spesies payung, di mana memengaruhi struktur vegetasi dan sirklus nutrisi yang dampaknya ke spesies lain.
Almarhum bokap gue, pecinta hewan. Nyokap gue, pecinta alam (makanya cocok terus kawin 😂). Mereka pernah bilang ke gue, “Orang yang bisa baik sama alam dan binatang, ke manusia bakal baik juga. Karena mereka tau cara berbagi. Sebaliknya, orang yang jahat sama alam dan binatang, perilaku ke manusia bakal seenak jidatnya aja. Karena yang mereka pikirin cuma diri mereka sendiri.”
Yuk kita sama-sama jaga alam dan para satwa liar penghuni daratan serta lautan yang tinggal di dalamnya.