Saya masih ingat suatu siang di bulan Maret 2026, di sela-sela mengerjakan episode BKR, membuka Youtube di laptop dan melihat satu thumbnail dari channel KEXP berisi dua makhluk absurd dengan kostum, props dan latar belakang serba polkadot hitam-putih. “Wah ini pasti seru nih” pikirku, tak mengetahui kalo klik ini akan menjadi awal obsesi baru dan gerbang depan menuju dunia esoterik dari musik mikrotonal.
Angine de poitrine (pelafalannya Perancis ya, jangan Jawa) dan penampilan mereka di KEXP itu pelan membiusku, presentasi visual mereka yang seperti makhluk dimensi lain, campuran dadaism dan cubism absurd melebur dengan segala detil di kostum dan design kedua tokohnya seperti amat berkesinambungan dengan musiknya. Metode komunikasi verbal yang minim nan absurd lengkap dengan efek modulasi menambah kohesif dunia yang mereka bangun. Konsep yang matang dan tak bercelah menurutku.

Khn de poitrine dengan instumen berleher gandanya, paduan gitar semodel stratocaster dan bass model precision mikrotonal, tarian kakinya memainkan efek-efek dan lebih gila lagi permainan loop pedalnya bagaimana dia melakukan manajemen riff yang kadang direkam dalam posisi sunyi, ditumpuk diam-diam diaktifkan setelah bagian lagu berlanjut, riffnya terdengar sederhana tapi sontak membuatku tersenyum tergelitik dari pitch yang tidak biasa, permainan tension-release yang awam terjadi seperti di bagian build-up ke drop pada musik EDM kini kurasakan di dimensi pitch, “fales nih, eh tapi engga, eh tapi fales, eh tapi… aaah F*ck ini gila banget!”
Mikrotonal sendiri sebetulnya bukan hal baru dalam musik, musik-musik tradisional terutama dari Timur (Arab & Persia) banyak yang menggunakan mikrotonal. Kalau musik konvensional itu membagi tangga nada menjadi 12 nada berjarak semitone atau half-step (satu fret di gitar/bass) mikrotonal membagi rasio tersebut lagi menjadi lebih, ada yang 16, atau seperti ADP (angine de poitrine, bukan Ahmad Dhani Prasetyo ya) mereka menggunakan 24 nada dalam satu tangga nada. Jadi ada nada di antara nada, dunia di dalam dunia, itulah mengapa fretnya Khn di antara fret ke-3 sampai fret ke-9 lebih padat dari gitar pada umumnya. Salah satu act modern yang acap menggunakan mikrotonal juga termasuk King gizzard & the lizard wizard.

Klek de poitrine dengan drum set yang dibungkus kain polkadot, hidung panjang yang bergoyang headbang semakin lagu mengencang, odd signature atau hitungan janggal yang berubah dari 5 ke 7 kembali ke 4, 14/8 yang dibagi jadi 3x4/8 dan 1x2/8 semua dikemas secara casual dan effortless mengajak pendengar bergerak, menggerakkan sesuatu yang instingtual bukan dipaksa.
Duo ini berasal dari Saguenay, kota kecil di daerah Quebec, Kanada dan deskripsi mereka sebagai “mantra-rock Dada Pythago-Cubist orchestra” valid. Dibentuk tahun 2019, keduanya sudah main musik bersama selama 20 tahun dari umur 13. Ini jelas terasa dari betapa tight permainan mereka, seakan kedua makhluk ini menjadi satu organisme super yang galak sekali dalam bermusik. Penampilan mereka di KEXP tampaknya menjadi katalis ketenaran mereka, youtuber-youtuber musik berlomba membahas mereka, 48.000 lebih komen di video berisi 4 lagu yang sudah ditonton lebih dari 13 juta kali ini baru berumur dua bulan saat tulisan ini dibuat. Dave grohl, di podcast Logan Sounds Off bilang band ini “absolutely blew (his) mind” dan mendeskripsikan mereka “completely bonkers”.
Musiknya terasa asing, ribet tapi catchy. Primordial karena kembali ke akar dari musik tradisional, ekspresif, groovy dipadankan dengan presentasi visual yang absurd, lengkap dengan simbolisme-simbolisme. Sebuah aksi acungan jari tengah kepada konsensus dan pakem-pakem berseni, yang dikemas ringan, bahkan cenderung goofy, dan tetap playful tidak seperti archetype prog-rock-jelimet-serius-pake-eyeliner-sambil-pose-foto-tangan-menyakar. Anarkisme yang sesungguhnya, bukan sekedar doktrinasi modern dari anarkis yang sekedar perusuh dan vandalis. Semua terasa seperti dalam jangkauan, namun tetap asing. An absurdist flirt with dissonance.

Lalu apakah hari itu editan BKR berlanjut? Tentu tidak, tampaknya worm-hole angine de poitrine, microtonal music, math rock, dadaism hari itu terlalu kuat menyedotku untuk kembali bekerja, tidak hari ini, hari ku temukan duo alien jenius ini.
All hail Angine De Poitrine!

Walau sama absurd, kalo ini tapi lebih ke Mbake Dudu Poitrine (ini baru pake logat Jawa bacane)